OoooooOoooh......

OoooooOoooh......

Di sebuah rumah megah yang dingin dan kelabu dengan mata kaca yang pecah,

Dia berjalan di lorong-lorong sendirian, di mana bayangan melintas lembut.

Bisikannya bergema kosong melalui gua-gua malam,

Sebuah simfoni kesedihan di dalam ketiadaan cahaya.

Air matanya jatuh seperti kristal dalam hening dan putus asa,

Melodi kepedihan memenuhi udara yang berat.

Setiap detak jam berdetak perlahan seperti lonceng dukacita,

Menandai setiap momen tak berujung dalam rima yang muram.

Dia bernyanyi untuk bulan, dia adalah bayangan di fajar,

Merindukan teman, tetapi selamanya menarik diri.

Suaranya adalah lagu pengantar tidur yang menghantui dalam malam yang dalam,

Meratapi mimpi-mimpinya yang hilang saat dia menangis lembut.

Kenangan seperti hantu menari di cermin,

Memantulkan rahasianya dalam trance yang penuh kesedihan.

Tawanya terkurung dalam waktu, seperti burung dengan sayap yang patah,

Dalam keheningan hatinya, seorang gadis yang kesepian bernyanyi.

Jendela menuju dunia tertutup dengan besi dan penyesalan,

Tahun-tahun tertulis di debu, kehidupan yang tak akan dia lupakan.

Langkah kakinya seperti bisikan di lantai marmer,

Gema kerinduan akan sesuatu yang lebih.

Dia bernyanyi untuk bulan, dia adalah bayangan di fajar,

Merindukan teman, tetapi selamanya menarik diri.

Suaranya adalah lagu pengantar tidur yang menghantui dalam malam yang dalam,

Meratapi mimpi-mimpinya yang hilang saat dia menangis lembut.

Bintang-bintang di atas adalah teman sunyi dalam perjuangannya,

Sebuah kanvas kesedihan yang ditenun oleh malam.

Dia meraih surga dengan tangan yang gemetar,

Dalam opera keputusasaan ini, dia adalah benang yang tragis.

Dia bernyanyi untuk bulan, serenada abadinya,

Sebuah suara kerinduan dalam bayangan yang tak pernah pudar.